Pengertian Ilmu Politik Menurut Para Ahli Indonesia

0 comentários
Pengertian Ilmu Politik Menurut Para Ahli Indonesia 


Pengertian Politik dan Ilmu Politik Menurut Para Ahli – Secara umum Politik dapat di artikan sebagai proses pembentukan serta pembagian mengenai akan kekuasaan di dalam masyarakat atau negara yang terkait diantaranya seperti yang membuat berjalanna proses keputusan.
Pengertian secara umum tersebut adalah upaya yang di lakukan dalam penggabungan di berbagai definisi yang berbeda-beda dalam hakikat politik itu sendiri atau para ahli menyebutnya sebagai Ilmu Politik. Bisa di simpulkan dari pembahasan di atas bahwasanya Politik ialah suatu seni atau ilmu yang secara khusus mempelajari dalam meraih kesuksesan dengan metode konstitusional atau nonkonstitusional.
  • Miriam Budiardjo: Menurut Miriam Budiardjo, bahwa pengertian ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari tentang perpolitikan. Politik diartikan sebagai usaha-usaha untuk mencapai kehidupan yang baik. Orang Yunani seperti plato dan aristoteles menyebutnya sebagai en dam onia atau the good life (kehidupan yang baik). 
  • Deliar Noer: Pengertian ilmu politik menurut Deliar Noer yang dalam buku pengantar pemikiran politik, ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat. 
  • Sri Sumantri: Pengertian ilmu politik menurut Sri Sumantri bahwa ilmu politik adalah pelembagaan dari hubungan antar manusia yang dilembagakan dalam bermacam-macam badan politik baik suprastruktur politik dan infrastruktur politik.  
  • Ramlan Surbakti: Pengertian ilmu politik menurut Ramlan Surbakti adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu. 
  • Kosasih Djahiri: Pengertian ilmu politik menurut Kosasih Djahiri bahwa ilmu politik melihat kekuasaan sebagai inti dari politik melahirkan sejumlah teori mengenai cara memperoleh dan melaksanakan kekuasaan. Sebenarnya setiap individu tidak dapat lepas dari kekuasaan, sebab memengaruhi seseorang atau sekelompok orang yang dapat menampilkan laku seperti yang diinginkan oleh seseorang atau pihak yang memengaruhi. 
  • Idrus Affandi: Menurut Idrus Affandi, pengertian ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kumpulan manusia yang hidup teratur dan memiliki tujuan yang sama dalam ikatan negara. 
  • Wirjono Projodikoro
    Menyatakan bahwa “Sifat terpenting dari bidang politik adalah penggunaan kekuasaan oleh suatu golongan anggota masyarakat terhadap golongan lain. Dalam ilmu politik selalu ada kekuasaan atau kekuatan.
  • Pengertian Ilmu Politik Secara Umum                                                                                                          Pengertian Ilmu Politik adalah cabang ilmu sosial yang membahas mengenai teori dan praktik politik serta gambaran dan analisis mengenai sistem politik dan perilaku politik.
Pada dasarnya untuk bisa memahami politik anda harus tahu kuncinya, yakni :
legitimasi, Kegiatan Politik, Partisipan Politik, Proses Politik, Kekuasaan, legitimasi yang juga beberapa yang paling penting lainnya adalah mengetahui mengenai seluk beluk dari partai politik.
Melihat dari segi etimologi “politik” bisa di bilang masih erat hubungannya dengan politisi dan kebijakan. Yang mana kata “politis” yang masih terkait dengan berbagai unsur politik sedangkan kata “politisi” sendiri adalah orang yang pekerjaannya dalam hal Politik.
Selain itu, Politik pun bisa dilihat dari sudut pandangan yang berbeda-beda, diantaranya adalah :
  • Politik merupakan usaha yang di lakukan oleh warga negara untuk mencapai kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles)
  • Politik dapat diartikan pula yang masih ada hubungannya dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara
  • Politik adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan serta mempertahankan kekuasaan di dalam masyarakat
  • Lalu yang terakhir, Politik bisa di artikan yakni suatu proses penentuan serta pelaksanaan kebijakan publik.

Referensi: Pengertian Ilmu Politik Menurut Para Ahli
  • Dasar Dasar Ilmu Politik oleh  Prof. Miriam Budiardjo tahun 1982, PT Gramedia: Jakarta Pengantar Ilmu Politik oleh Seta Basri, 2011, Indie Book Corner: Jokjakarta.
  • May Rudy, 2003. Pengantar Ilmu Politik (Wawasan Pemikiran dan Kegunaannya). Penerbit PT Refika Aditama : Bandung.

Read More »

THE BEAUTIFUL NAMES OF THE QUR’AN

0 comentários

In recent times, much has been written, discussed and debated about the beautiful names and attributes of Allah (سبحانه و تعالى), both in the form of articles and talks. However, one thing which is rarely discussed is the various names and meanings of the Glorious Qur’an itself, which Allah (سبحانه و تعالى) Himself has attributed to His Kitab.
In this blessed month of Ramadhan, when the dry fasting lips and tongues of the believing men and women are in constant engagement in the recitation of the verses of the Qur’an, it is an ideal moment to take a step back and contemplate about the unique names of the Glorious Qur’an as well as unravelling the deep meanings that these names allude to.
Indeed, there is immense reward for the believers in the contemplation of these beautiful names and meanings of the Qur’an. This is similar to the reward gained in contemplating about the universe and its existence, which leads to the inevitable revering and worshipping of the Omnipotent Creator.
It is in this light that I wish to briefly discuss some selected names and meanings of the Qur’an ul Kareem so as to make the readers think beyond the apparent meanings of these names, and focus and reflect on the essence of the terms used by Allah (سبحانه و تعالى) to describe His Kitab, and its wider implications for the Muslims in their endeavour to worship Allah (سبحانه و تعالى).
To begin with, one of the most obvious points to mentions is that Allah (سبحانه و تعالى) refers to His Qur’an as Kalamullah (Word of Allah), as in the following ayah from Surah At-Taubah:

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ 

“And if anyone of the Mushrikun seeks your protection then grant him protection, so that he may hear the Word of Allah (Qur’an), and then escort him to where he can be secure, that is because they are men who know not.” [At-Taubah: 6]
It is a sad reality that many Muslims today just give lip service to this term. Many are quick to acknowledge the Qur’an as the Word of Allah but show little manifestation in living it. If a Muslim deeply reflects on the magnitude of this statement, he would realise that this Kitabis like no other book in history, as this is the very sacred words of Allah (سبحانه و تعالى), the Creator of the Heavens and the Earth, which has been communicated to mankind via His Messenger Muhammad (saw). In it, there is salvation for mankind who choose to follow and live a pious and obedient life fulfilling their duties towards their Lord.
In other parts of the Qur’an Allah (سبحانه و تعالى) describes His Kitab as Al-Huda (the guidance). In Surah Al-Imran Allah (سبحانه و تعالى) says:

هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ 

“This (the Qur’an) is a plain statement for mankind, a guidance and instruction to those who are Al-Muttaqun (the pious).” [Ali’ Imran: 138]
In numerous ayats, Allah (سبحانه و تعالى) describes this Qur’an as guidance for mankind. In it are the solutions to life’s problems both in the dunya and the akhira. If this Qur’an is taken as the basis of our lives then we will see a profound and radical change in the society around us. The Qur’an will fulfil its guidance for mankind in every sphere of our lives, and it will bring about the necessary divine intervention in the political and socio-economics of the society we live in. It is only then that we will truly appreciate and witness the noor (sacred light) of the Qur’an spreading over the world with its rahma (mercy) and huda (guidance).
In another part of the Qur’an, Allah (سبحانه و تعالى) describes His Qur’an in the most amazing manner by metaphorically referring to it as the Ruh (the Book which gives life to faith).

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ 

“And thus We have sent to you (Oh Muhammad) Ruhan of Our Command. You knew not what is the Book, not what is faith? But We have made it (this Qur’an) a light wherewith We guide whosoever of Our slaves We will. And verily, you are indeed guiding (mankind) to the straight path.”  [Ash-Shura: 52]
If one analyses and reflects on the use of this term, then he would realise the striking resemblance that has been made with the ruh of human beings i.e. secret of life. Just as mankind is nothing without the presence of the ruh (secret of life) in the body, likewise, the believers would have no purpose in life without the ruh of the Qur’an. The believers devoid of this guidance could be likened to a rock or a stone without any life or purpose. 
Another beautiful name by which Allah (سبحانه و تعالى) describes His Kitab is by the use of the term Shifa’ (healing/cure). In Surah Yunus Allah (سبحانه و تعالى) mentions:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ 

“Oh mankind! There has come to you a good advice from your Lord (i.e. the Qur’an), and a healing for that (disease of ignorance) in your breasts, a guidance and a mercy for the believers.” [Yunus: 57]
The prophet Muhammad (saw) said in a hadith reported by Imams Bukhari and Muslim,
‘In the body, there is a piece of flesh, if it is good, the whole body is good, and if it is bad, the whole body is bad; truly it is the heart.’
Islam has placed the deeds of the heart much higher than then deeds of the limbs. The heart is the essence of the human being and is the ultimate deciding entity of man’s righteousness or corruption. This is why in Islam the action of the believer would be futile without the correct intention. Those who tread the path of ignorance and transgress the limits set by Allah (سبحانه و تعالى) will have a disease in their hearts, which can potentially cause their spiritual death. It is only through the embracing of the verses of the Qur’an and its application in the hearts and limbs, would the believers find a healing and remedy for their spiritual disease, leading to the path of guidance.
If the hearts and limbs are not inclined towards Allah and His Messenger through the beautiful zikr (remembrance) of the Qur’an, then Allah (سبحانه و تعالى) reminds mankind of the stern consequences of their rejection of faith and their subsequent evil deeds. Allah (سبحانه و تعالى) uses An-Nadhir (warner) to describe the Qur’an so as to warn the kafiroon (disbelievers), munafiqoon (hypocrites) and the fasiqoon (sinners) of what awaits them for their constant indulgent of sin and kufr.

بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

“Good tidings and a warning. But most of them turn away so that they hear not.” [Fussilat: 4]
Indeed, those who indulge in the disobedience and rejection of the Message of the Lord of the worlds will face the punishment of the hereafter by being thrown into the hellfire.

The only path of salvation for mankind is in the acceptance of the Islamic faith and the complete submission to the will of Allah (سبحانه و تعالى). It requires the believers to adopt the shariah as their code of conduct in life’s affairs. Indeed, Allah (سبحانه و تعالى) refers to the Qur’an as Al-Furqan (the criterion of judgement). In Surah Al-Furqan, He (سبحانه و تعالى) says:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا 

“Blessed be He who sent down the criterion (of right and wrong i.e. this Qur’an) to His slave (Muhammad) that he may be a warner to the ‘Alamin (mankind and jinns).” {Al-Furqan: 1}
The Arabic word ‘Al-Furqan’ literally means ‘that which distinguishes between right and wrong’. Allah’s (سبحانه و تعالى) revelation and expression of His will, is certainly, the true standard of right and wrong. The Qur’an distinguishes between good and evil, between truth and falsehood, and between knowledge and ignorance. It demands that the believers follow the commands of their Lord, by following the ahkam shariah in all aspects of their lives, by abstaining from the haram (forbidden) and fulfilling the faraid (obligations), as well as enjoining the good and forbidding the evil.
Al-Furqan reminds us of the ayat in Surah Al-Zalzalah, where Allah (سبحانه و تعالى) says:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ 

“So whoever does an atom’s weight of good shall see it. And whoever does an atom’s weight of evil shall see it.” [Zalzalah: 7-8]
Lastly, I would like to remind the sincere believers that by fulfilling their covenant with Allah (سبحانه و تعالى) it will result in the manifestation of goodness both in this life and the hereafter. Allah (سبحانه و تعالى) refers to His Qur’an as Bushra (glad tidings) because of the sheer volume of good news it contains. The Qur’an gives good news about forgiveness, about the achievement of salvation and about life in paradise. All it requires is for the followers to submit themselves to this Qur’an and emulate the footstep of the Prophet of Allah (saw) by becoming a living Qur’an both in speech and deed.

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ 

“Say (oh Muhammad) Ruh-ul-Qudus (Jibreel) has brought it (Qur’an) down from your Lord with truth, that it may make firm and strengthen those who believe as a guidance and glad tidings to those who have submitted.” [An-Nahl: 102]

Read More »

Contoh Keberhasilan Memmbangun Ketahanan Pangan dalam islam

0 comentários

MEMBANGUN KETAHANAN PANGAN

Oleh: Prof. Dr. Fahmi Amhar
Ketahanan sebuah negara tidak hanya diukur dari kekuatan militernya, tetapi juga berbagai hal lainnya.  Maka muncullah istilah “ketahanan pangan”, “ketahanan energi”, “ketahanan sarana kesehatan dan obat-obatan”, “ketahanan prasarana dan sarana perhubungan”, “ketahanan informasi dan komunikasi” dan “ketahanan terhadap bencana alam dan serangan”.  Ukuran masing-masing ketahanan itu antara lain adalah jumlah orang yang akan terdampak bila ada gangguan ketahanan, dan panjang waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan.
Sebuah perang lambat atau cepat akan menggoyang ketahanan suatu negara.  Namun untuk membuat sebuah negara tenggelam, tidak harus ada perang! Kalau semisal ketahanan pangan hancur, di negara itu pangan langka, muncul bencana kelaparan yang meluas dan berkepanjangan, maka negara itu bisa ditinggalkan penduduknya mengungsi, atau ada kematian massal, atau negara itu akhirnya terpaksa mengemis bantuan kepada negara lain dengan segenap konsekuensinya.
Di sisi lain, suatu negara dengan keunggulan militer adi daya, belum tentu akan memenangkan peperangan tatkala ketahanan pangan di sana sudah menipis.  Bagi seorang prajurit yang kelaparan, sepucuk senjata canggih tidak ada gunanya.  Bahkan bisa jadi senjata itu justru akan ditukar dengan sebungkus nasi.
Oleh sebab itu, sebuah negara yang bercita-cita menjaga ketertiban dunia, atau bahkan menyebarkan rahmat ke seluruh semesta dengan dakwah dan jihad, wajib memiliki seluruh aspek ketahanan.
Dalam Alquran dicontohkan bagaimana Nabi Yusuf  membangun ketahanan pangan.  Nabi Yusuf berhasil menterjemahkan mimpi raja Mesir tentang 7 sapi kurus dan 7 sapi gemuk, dengan tafsiran siklus ekonomi 7 tahunan negeri Mesir saat itu, yaitu akan terjadi 7 tahun masa panen yang subur dan disusul 7 tahun masa kering paceklik dan kemudian subur kembali.  Oleh Nabi Yusuf, tidak semua produk pangan di masa subur akan dikonsumsi, tetapi ada yang disimpan untuk cadangan.  Untuk itu perlu dikembangkan teknik pengawetan pangan, sistem sirkulasi, standar bangunan penyimpanan pangan, serta pegaturan gaya hidup dan konsumsi masyarakat, merupakan komponen yang harus diperhatikan sebagai upaya mewujudkan ketahanan pangan negara.

Setidaknya ada lima prinsip pokok tentang ketahanan pangan yang digagas dan diterapkan oleh Nabi Yusuf AS yang pernah dijalankan di masa yang panjang dari Kekhilafahan Islam, yang tetap relevan hingga masa-masa mendatang.
Pertama, optimalisasi produksi, yaitu mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok.  Di sinilah peran berbagai aplikasi sains dan teknologi, mulai dari mencari lahan yang optimal untuk benih tanaman tertentu, teknik irigasi, pemupukan, penanganan hama hingga pemanenan dan pengolahan pasca panen.
Kedua, adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan.  Konsumsi berlebihan justru berpotensi merusak kesehatan (wabah obesitas) dan juga meningkatan persoalan limbah.  Nabi juga mengajarkan agar seorang mukmin baru “makan tatkala lapar, dan berhenti sebelum kekenyangan”.
Ketiga, manajemen logistik, dimana masalah pangan beserta yang menyertainya (irigasi, pupuk, anti hama) sepenuhnya dikendalikan oleh pemerintah yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang.  Di sini teknologi pasca panen menjadi penting.
Keempat, prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima bumi.
Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan.  Mitigasi ini berikut tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit seperti itu.
Sebagian ilmuwan pertanian dalam sejarah Islam menuliskan semua prinsip ketahanan pangan itu nyaris dalam satu buku.  Di dalamnya, dibahas soal jenis lahan pertanian dan pilihan tanah, pupuk kandang dan pupuk lain, alat pertanian dan karya budidaya, sumur, mata air, saluran irigasi, tanaman, pembibitan, penanaman, pemangkasan, dan pencangkokan buah. Mereka juga membahas soal budidaya serealia, kacang-kacangan, sayuran, bunga, umbi-umbian, dan tanaman untuk parfum. Pun, tentang tumbuhan dan hewan beracun serta pengawetan buah.  Bahkan tentang fiqih pertanahan dan ahlaq petani.
Khilafah juga mengembangkan iklim yang kondusif bagi penelitian dan pengembangan di bidang pertanian. Banyak laboratorium perpustakaan dan lahan-lahan percobaan dibangun. Para ilmuwan diberi berbagai dukungan yang diperlukan, termasuk dana penelitian, selain penghargaan atas karya mereka. Lalu lahirlah banyak sekali ilmuwan pelopor di bidang pertanian. Misalnya, Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Ibn Al-Awwan, tinggal di Sevilla. Ia menulis buku Kitab al-Filahah yang menjelaskan rincian tentang hampir 600 jenis tanaman dan budidaya 50 jenis buah-buahan, hama dan penyakit serta penanggulanganya, teknik mengolah tanah: sifat-sifat tanah, karakteristik dan tanaman yang cocok; juga tentang kompos.
Ada juga Abu al-Khair, seorang ahli pertanian abad-12. Ia menulis dan menjelaskan empat cara untuk memanen air hujan dan membuat perairan buatan. Khair menegaskan perlunya penggunaan air hujan untuk membantu proses reproduksi pohon zaitun dengan cara stek. Ia juga menguraikan teknik pembuatan gula dari Tebu.
Ahmad al-Muwairi dalam bukunya Nihayah al-Arab fi Funun al-Adab menjelaskan, pada masa itu juga telah berkembang industri gula yang didukung oleh perkebunan tebu di Faris dan al-Ahwaz, yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah Laut Tengah. Ia juga menginformasikan penggunaan bajak berat (maharit kibaar) yang digunakan sebelum penanaman tebu.
Ada pula ahli pertanian dari Damaskus, Riyad ad-Din al-Ghazni al-Amiri (935/1529). Dia menulis sebuah buku tentang pertanian yang terperinci.
Kitab al Filaha dalam terjemahan bahasa Latin
Kitab al Filaha dalam terjemahan bahasa Latin
Ibnu Bassal (1038-1075), seorang ilmuwan di Andalusia, memelopori penggunaan teknologi “flywheel” (roda gila) untuk meningkatkan. kemampuan Na’ura (roda kincir air). Teknologi kincir termasuk kincir angin sudah dijelaskan dalam Kitab at-Hiyal karya Banu Musa bersaudara abad ke-3 H (9 M). Muhammad bin Zakaria ar-Razi dalam kitabnya al-Hawi (abad X M), menggambarkan kincir air di Irak yang bisa mengangkat sebanyak 153.000 liter perjam, atau 2.550 liter permenit. Buku ini juga menggambarkan output dari satu kincir air dengan ketinggian 5 meter di Irak dapat mencapai 22.000 liter perjam.[]
Sumber: Tabloid Mediaumat Edisi 223

Read More »

DEFINISI ILMU PEMERINTAHAN MENURUT PARA AHLI

10 comentários
No
NAMA
DEFINISI
INTI
KETERANGAN
1
Muhadam Labolo
Ilmu yang mempelajari bagaimana pemerintah sebagai unit kerja pulik memenuhi dan melindungi tuntutan masyarakat yang di perintah
1.unit kerja publik
2.memenuhi.
3.melindungi
Muhadam Labolo,2007
2
And Reas dananjaj
Ilmu yang mempelajari kesalingan terkait antara posisi-posisi dan peran setiap pelaku pemerintahan
1.saling ketertarikan
2.posisi
3.peran
And Reas Danandjaja,2008
3
U.Roshental
Ilmu yang mempelajari secara otonaom yang mempelajari struktur dan proses-proses pemerintahan umum baik secara internal maupun external.
1.Otonom
2.struktur
3proses
4.internal
5.external
Drs.Inu Kencana Syafiie. Msi,2007
4
Afan Gaffan
Ilmu pemerintahan sebagai ilmu yang mempelajari proses politik
(alokasi otoritatif nilai-nilai di dalam sebuah masyarakat) dalam penyelenggaraan sebuah negara.
1.Politik
2.Negara
3.Nilai-Nilai
Afan Gaffar,1995,buku Metode Ilmu Pemerintahan,hal:16

5
H.A Brasz
Ilmu pemerintahan dapat di artikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang cara bagaimana lembaga pemerintahan umum itu di susun di fungsikan baik secara kedalam maupun keluar terhadap keluarganya.
1.Disusun
2.Difungsikan
3.lembaga umum
Drs. Inu Kencana Syafiie Msi,2005

6
Charles Merriam
Ilmu yang mempelari bagaimana pengurus(eksekutif) pengaturan(legislatif) kepemimpinan dan koordinasi pemerintahan dalam berbagagi peristiwa dan segala pemerintahan secara baik dan benar.
1.eksekutif
2.legislatif
3.kepemimpinan
4.koordinasi
Drs. Inu kencana Syafiie.Msi,2005



7
C.F Strong
Pemerintahan dalam arti luas mempunyai kewenangan untuk memelihara kedamaian dan keamanan warga kedalam dan keluar
1.Kewenangan
2.Memelihara
3.Kewenangan
C.F Strong 1960 hal :6
8
R.Mac iver
Pemerintah adalah suatu organisasi dari orang-orang yang mempunyai kekuasaan bagaimana manusia itupun di perintah
1.Organisasi
2.Kekuasaan
3.Diperintah
Drs. Inu kencana Syafiie. Msi,2007
9
Inu Kencana Syafiie
Ilmu yang mempelajari bagaimana melaksanakan koodinasi dan kemampuan memimpin bidan Legislatif,Eksekutif,Yudikatif
1.Koordinasi
2.Legislatif
3.Eksekutif
4.Yudikatif
Drs. Inu Kencana Syafiie Msi,2005
10
Taliziduhu Ndraha
Ilmu yang mempelajari proses pemenuhan kebutuhan konsumen produk pemerintah akan pelayanan public dan pelayanan civil dalam hubungan pemerintahan
1.Pemenuhan Kebutuhan
2. pelayanan public
3.pelayanan civil
4.hubungan pemerintah
Afan Gaffar,1995,buku Metodologi ilmu Pemerintah
11
J.A Corry
Pemerintahan merupakan pengejiwaan yang kongkrit di Negara yang terdiri di badan orang yang melaksanankan tujuan negara
1.Pengejiwaan
2.kongkrit
3.Negara
4.Melaksanakan tujuan
J.A.Corry,2008
12
Soemendar Soerjo Soedarmano
Ilmu yang mempelajari kegiatan-kegiatan kenegaraan dalam rangka memenuhi kepentingan masyarakat secara menyeluruh
1.Kenegaraan
2.Memenuhi kepentingan Masyarakaat
Afan Gaffar,1995,buku Metodologi ilmu pemerintah
13
JAA Van Doom
Ilmu pengetahuan tentang struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil
1.Struktur
2.Proses
3.Stabil
JAA Van Doom,2007
14
G.A. Van.Poelje
Ilmu yang mempelajari bagaimana memimpin dengan baik, baik kemajuan dan kesejahteraan semua bagi rakyat,tanpa merugikan secara tidak syah.

1.Pimpinan
2.Kemakmuran
3.Kesejahteraan
4.Tidak merugikan orang lain.
Afan Gaffar,1995,buku Metodologi ilmu Pemerintahan
15
David Apter
Pemerintah itu merupakan satuan anggota yang paling umum(a) memiliki tanggung jawab tertentu untuk mempertahankan system yang mencakup (b) menopoli praktis
1.Tanggung jawab
2.Monopoli
3.Kekuasaan paksaan
David Apter 1965 , hal:89
16
Ilbert Highet
Ilmu yang mendefinisikan sebagai proses pengakuan perlindungan dan pemenuhan tuntutan yang di perintah rakyat akan jasa public dan melayani civil dan dibutuhkan
1.Perlindungan
2.Pemenuhan
3.Melayani civil
Drs. Inu Kencana Syafiie.Msi,2005
17
Max weber
Pemerintah tidak lain merupakana apapun yang berhasil menopang klaim bahwa dialah yang secara eksekutif berhak menggunakan kekuatan fisik untuk memaksakan aturan-aturannya dalam suatu wilayah tertentu
1.Eksekutif
2.Kekuatan
3.Aturan
4.Wilayah
Drs. H.Inu Kencana syafiie,2007
18
Drs. Musanef
Suatu ilmu pengetahuan yang menyelidiki bagaimana sebaiknya hubungan antara pemerintah dan yang di perintah, dapat di atur sedemikian rupasehingga dapat di hindari pertentangan-pertentangan antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya dan mengusahakan agar terdapat kerahasian pendapat serta daya tindak yang efektif dan efesien dalam pemerintahan
1.Menyelidiki
2.Hubungan
3.Kerahasiaan
4.efektif
5.Efesien
Drs.Musanef, 1985 hal: 7-8
19
W.S.Sayre
Meyakini bahwa pemerintah merupakan sebuah gejala yang memperlihatkan dan yang menjalankan sebuah Negara. Maksudnya pemerintah adlah organisasi dari Negara yang memperlihatkan dan menjalankan kekuasaan.
1.Sebuah Gejala
2.Negara
3.Organisasi
4.Kekuasaan
Dra.H. Inu Kencana Syafiie,2007
20
Prof.Dr.Ryaas Rasyid
Tujuan utama di bentuknya pemerintahan adalah untuk menjaga suatu system ketertiban dimana masyarakat bias menjalani kehidupan secara wajar.
1.Menjaga
2.System
3.Ketertiban
Rasyid,2006 dalam buku Memahami Ilmu pemerintahan karya : Muhadam Labolo


Read More »